Monday, May 2, 2011

Hari Pendidikan Nasional : Potret Buram Pendidikan Nasional



Bagi bangsa yang ingin maju dan unggul dalam persaingan global, pendidikan merupakan kunci utamanya. Pendidikan adalah tugas negara yang paling penting dan sangat strategis. Sumberdaya manusia yang berkualitas merupakan prasyarat dasar bagi terbentuknya peradaban yang baik. Sebaliknya sumberdaya manusia yang buruk, akan secara pasti melahirkan masyarakat yang buruk pula.

Untuk mengantar kepada visi pendidikan yang demikian, dan melihat realitas pendidikan di negeri ini masih sangat jauh dari harapan . Bahkan, jauh tertinggal dari negara – negara lain. Hal ini setidaknya dapat dilihat dari tiga hal : Pertama, paradigma pendidikan nasional yang sangat sekuler dan materialistik sehingga tidak menghasilkan manusia yang berkualitas utuh, lahir dan batin. Kedua, semakin mahalnya biaya pendidikan dari tahun ke tahun. Ketiga, rendahnya kualitas SDM yang dihasilkan untuk bersaing secara global.

Sistem pendidikan yang sekuler materialistik tersebut sebenarnya hanyalah merupakan bagian belaka dari sebuah sistem kehidupan berbangsa dan bernegara yang juga sekuler dan materialistik. Memang, dalam sistem sekuler materialistik itu, yang namanya pandangan, aturan, dan nilai – nilai Islam tidak pernah secara sengaja digunakan untuk menata berbagai bidang, terutama dalam pendidikan ini. Karena itu, di tengah-tengah sistem sekuleristik  lahirlah berbagai bentuk tatanan yang jauh dari nilai-nilai agama dan segala akibat-akibatnya yang menimpa bangsa dan negara ini.

Paradigma Pendidikan Nasional
Dalam UU Sisdiknas N0. 20 Tahun 2003  tampak jelas adanya dikotomi pendidikan agama dan umum yang bisa melahirkan pendidikan sekuler materialistik. Padahal sistem pendidikan yang dikotomis semacam ini telah terbukti gagal melahirkan manusia utuh (soleh) yang berkepribadian Islam sekaligus mampu menjawab tantangan dan perkembangan penguasaan sains dan teknologi.

Dari sistem pendidikan ini, terdapat kesan yang kuat bahwa pengembangan ilmu-ilmu (iptek) yang dilakukan Depdiknas dipandang sebagai tidak berhubungan dengan Agama (Islam). Sementara pembentukan karakter siswa yang merupakan bagian terpenting dari proses pendidikan, justeru kurang tergarap secara serius. Kurikulum Agama (Islam) hanya ditempatkan sekadar sebagai salah satu aspek yang perannya sangat minimalis dan bukan menjadi dasar utama dari seluruh aspek kehidupan.

Ini artinya, sangat jelas tidak akan mampu mewujudkan anak didik yang sesuai tujuan pendidikan nasional itu sendiri, yaitu mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, berkepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.

Karena itu, pendidikan yang sekuler materialistik ini memang bias melahirkan orang yang menguasai sains teknologi melalui pendidikan umum yang diikutinya. Namun, pendidikan semacam ini terbukti gagal membentuk kepribadian peserta didik dan penguasaan pengetahuan keislaman. Betapa banyaknya lulusan pendidikan umum yang tetap saja “buta agama” dan rapuh kepribadiannya. Sebaliknya, yang belajar dalam lingkungan pendidikan agama memang menguasai pengetahuan keislaman dan secara relatif kepribadiannya tergarap dengan baik, tetapi disisi lain terkesan buta terhadap ilmu-ilmu kehidupan modern.

Apa yang terjadi selanjutnya? Sektor-sektor kehidupan modern seperti industri manufaktur, perdagangan, jasa, eksplorasi SDA, perbankan, dan lain-lain lebih banyak diisi oleh orang-orang yang mengerti pengetahuan Islam lebih banyak  berkumpul di dunianya, seperti madrasah, dosen/guru agama, Depag, dan pada umumnya tidak mampu bersaing dan terjun pada sector-sektor modern.

Dan ujung-ujungnya, merebaknya wabah korupsi di negeri ini karena akibat keterbelahan sistem pendidikan ini, termasuk berbagai penyakit sosial lainnya. Hal ini telah kita rasakan sampai saat ini.

Biaya Pendidikan Mahal Selangit
Sudah menjadi rahasia umum, bahwa pendidikan bermutu itu mahal. Kalimat ini yang sering muncul untuk menjustifikasi mahalnya biaya pendidikan yang harus dikeluarkan oleh masyarakat agar anaknya dapat menikmati pendidikan. Hal ini dapat terlihat dari Taman Kanak – Kanak (TK) sampai Perguruan Tinggi (PT) yang membuat masyarakat miskin tidak memiliki kesempatan yang sama dengan kaum the haves (golongan kaya). Tentu tidak ada pilihan lain, kecuali putus sekolah.

Privatisasi atau semakin melemahnya peran negara dalam sektor pendidikan sebagai pelayanan publik, tak lepas dari tekanan utang dan kebijakan untuk memastikan pembayaran utang. Utang luar negeri Indonesia sebesar 35 – 40 persen dari APBN setiap tahunnya merupakan faktor pendorong terjadinya privatisasi pendidikan. Apa akibatnya? Sekitar yang menyerap pendanaan besar seperti pendidikan menjadi korban pertama. Dana pendidikan terpotong hingga tinggal 8 persen (Kompas, 10/5-2005). Menurut data Direktorat Jenderal Pengelolaan Utang, Kementerian Keuangan, utang pemerintah Indonesia periode Januari – Agustus 2010 tercatat sebesar Rp. 1. 654,9 triliun (media umat, edisi 48 3-23/12/2010). Artinya, jerat utang ini akan terus menjadi bagian dalam mengisi APBN, walaupun negeri ini berlimpah kekayaan alamnya. Dan tentu saja, dana pendidikan akan tetap terjerumus dengan utang yang besar itu.

Karena itu, jika alasannya pendidikan bermutu itu harus mahal, maka argumen ini hanya bertolak di Indonesia. Di luar negeri, misalnya Jerman, Perancis, Belanda dan dibeberapa Negara berkembang lainnya, justru banyak sekolah/perguruan tinggi yang bermutu namun biaya pendidikannya rendah, bahkan ada yang gratiskan biaya pendidikannya.

Pendidikan yang berkualitas memang tidak mungkin murah, tetapi persoalannya siapa yang seharusnya membayarnya? Kewajiban pemerintahlah atas nama Negara untuk menjamin setiap warga negaranya untuk memperoleh pendidikan yang bermutu. Ini vidi ideal pemerintahan dari segala strukturnya untuk mewujudkan peradaban yang memanusiakan dari sadar akan eksistensinya di muka bumi ini sebagai hamba Tuhan.

Ancaman Komersialisasi
Orang miskin dilarang sekolah! Dari tahun ketahun, tidak lama lagi, mungkin itu yang akan terjadi di Indonesia. Pasalnya sekolah semakin mahal. Untuk masuk TK sampai perguruan tinggi, apalagi unggulan, SBI, orang tua bisa menghabiskan jutaan sampai miliyaran rupiah. Memang, ada yang murah tetapi jangan ditanya kualitasnya, tentu apa adanya. Secara jujur, inilah yang disebut diskriminasi dalam dunia pendidikan kita. Kalau punya uang banyak, pasti bisa mendapatkan pendidikan yang berkualitas. Dan sebaliknya, kalau terbatas dananya harus pasrah dengan kualitas pendidikan yang menyedihkan.

Kenapa? Karena seharusnya pendidikan yang berkualitas harus berlaku sama bagi siapa saja yang punya uang atau tidak. Sebab pendidikan yang berkualitas merupakan asset negara yang bukan milik orang kaya.

Sebenarnya inilah yang disebut pengapdosian kebijakan kapitalis dalam dunia pendidikan memang semakin menguat. Memang dalam sitem kapitalis, peran negara diminimalisasi, negara hanya sebagai regulator. Peran swasta pun dioptimalkan. Muncullah istilah-istilah “luhur” yang sebenarnya menimpa yaitu otonomi sekolah, otonomi kampus, dewan sekolah yang intinya negara lepas tangan terhadap dunia pendidikan. Lagi-lagi yang muncul adalah masalah pendanaan, sehingga harus banting tulang untuk mencari sumber pendanaan mulai dari buka bisnis sampai ujung-ujungnya menaikkan biaya pendidikan. Hasilnya, pendidikan benar-benar dikomersialisasikan melalui sumber dana masyarakat non – SPP yang itemnya bertumpuk.

Intervensi Asing
Meningkatnya kapitalisasi pendidikan di Indonesia tidak bisa dipisahkan dari sejarah kolonialisasi. Sejak awal memang penjajah telah memformat sistem pendidikan menjadi sistem kapitalisme yang siap mengabdi kepada tuannya. Artinya, meskipun Indonesia sudah merdeka, tetapi subtansi sistem pendidikan yang sekuler materialistik yang dijalankan oleh para pemimpin yang memang dididik oleh mereka-mereka untuk mengalahkan imperialisme gaya baru.

Selanjutnya, kebijakan-kebijakan kapitalistik akan muncul subur dan tidak bisa dilepaskan dari peran intelektual yang dididik oleh “Barat” masih mencengkeram kuat negeri ini. Seperti persaingan institusi-institusi pendidikan Indonesia dengan institusi asing. Dalam hal ini, sangat jelas bahwa Indonesia masih di bawah asing. Artinya, intervensi ini terjadi melalui sistem negara yang sekuler dan para intelektualnya.

Nah, asing biasa masuk melalui beberapa jalan seperti memberikan bantuan, pinjaman, beasiswa, hibah, penelitian, dan lain-lain. Berbagai pinjaman itu dikucurkan agar kebijakan perguruan tinggi tersebut dapat tunduk di bawah tekanan dan asing yang kelak para alumni AS ini akan menjadi “diplomat” yang notabene pelanjut imperialisme baru.

Di Indonesia, jargon “pendidikan untuk semua” sering dilantunkan. Namun dibawah sistem demokrasi ini sering “dibajak” oleh pemilik modal, termasuk pemodal asing. UU Pendidikan yang dibuat sering malah berpihak kepada pendidikan mereka dan bukan pada rakyat banyak. Itulah sistem pendidikan dalam cengkeraman kapitalisme.

Solusi fundamental dari potret  buram pendidikan ini, sistem pendidikan harus diarahkan pada perubahan paradigma, yaitu pondasi dari akidah Islam yang tidak mengenal dikotomi pendidikan umum dan agama. Akhirnya  lahirlah ribuan intelektual muslim yang memahami agama sekaligus   siap menjawab tantangan di zamannya. Semoga!


Sumber

Sunday, May 1, 2011

Kenekatan Cinta Buta di Indonesia,Jangan Ditiru!!!!!!



Si eneng : "pemandangannya indah ye bang!"
Si abang : "Ho'oh neng, tapi lebih indah eneng!"
Si eneng : "Ih si abang bise aje!"(Ngegeplak)
Si abang : "Dih si eneng sadis juge! Tapi neng, kalo eneng jadi langit, biar abang jadi awannya ye!" (gombal mode on)
Si eneng : "Iye bang? Terus kalo eneng jadi antena, abang jadi tipinya gitu?"
Si abang : "Iye lah neng!"
Si eneng : "Terus kalo eneng jadi jadian, abang jadi ape bang?"
Si abang : "Maksud eneng?"
Si eneng : "Iye bang, aye cewek jadi2an, alias...ya abang tau kan?"
Si abang : najis


Ini akibat padatnya penduduk jakarta, karena di dalam rumah banyak anak-anak, akhirnya kedua sejoli ini pun memutuskan untuk memadu kasih di atas atap .. 

Memulihkan Stamina Dengan Cara Alami


Kekurangan cairan tubuh atau dehidrasi bisa menyebabkan sederet keluhan, seperti penurunan stamina, hilangnya konsentrasi, pusing atau rasa mual. Orang-orang yang aktif berolahraga termasuk dalam kelompok yang rentan mengalami dehidrasi.

Beberapa penyebab terjadinya dehidrasi pada orang yang aktif berolahraga adalah kurangnya asupan cairan, keluar keringat berlebihan, serta kebiasaan minum hanya pada saat haus.

"Pada mereka yang tergolong aktif, kekurangan cairan bisa mengakibatkan lesu, nyeri persendian dan sakit otot. Jika kelebihan cairannya sudah lebih dari 8 persen, orang tersebut bisa mengalami halusinasi bahkan pingsan," kata Emilia Achmadi, ahli gizi dari SEHATI dalam acara diskusi kesehatan bertajuk Penuhi Kebutuhan Hidrasi bagi Pribadi Aktif yang diadakan oleh Nestle Pure Life di Jakarta beberapa waktu lalu.

Mereka yang berolahraga juga bisa kehilangan cairan tubuh karena intensitas latihan, suhu, serta ketinggian. Karena itu Emilia menganjurkan agar kita memantau kebutuhan hidrasi tubuh sepanjang kegiatan olahraga.

American College of Sport Medicine menganjurkan beberapa hal untuk mencegah dehidrasi, antara lain mengonsumsi sekitar setengah liter air 2-3 jam sebelum berolahraga, kemudian minum kembali sekitar 250 ml sekitar 10-20 menit sebelum berolahraga, serta minum 250 ml lagi saat berolahraga.

Emilia tidak menganjurkan konsumsi sport drink untuk mengganti cairan tubuh yang hilang saat berolahraga. "Tidak dianjurkan, kecuali Anda adalah atlet yang berolahraga dengan intensitas tinggi selama lebih dari 2 jam, misalnya atlet maraton atau atlet sepeda," paparnya.

Demikian juga halnya dengan minuman isotonik. Jika Anda tidak sedang terburu-buru untuk mengganti cairan yang hilang seperti pada pasien diare, Emilia menyarankan agar kita membuat sendiri minuman isotonik.

"Isotonik itu berarti konsentrasinya sama dengan cairan tubuh. Contoh minuman isotonik adalah oralit. Kita bisa membuat sendiri minuman ini dengan mencampurkan 900 ml air, ditambah gula 50 gr, garam 1,5 gram dan irisan lemon," kata wanita yang setiap harinya mengonsumsi minuman isotonik alami ini.

Begitu haus, sebaiknya segera minum, kalau tidak lama kelamaan tubuh bisa lelah. "Kalau bisa minumlah sebelum haus karena haus merupakan sinyal bahwa tubuh sudah kekurangan cairan," katanya. 

Buat Yang Sering Kram Silahkan Ini Ada Sedkit Solusinya



Kram atau otot kejang bisa terjadi di mana saja, saat berjalan, duduk, berenang, berlari atau kegiatan lainnya. Bila Anda sering menderita kram cobalah rutin makan pisang.

Kram biasanya terjadi pada otot gastrocnemius dan otot soleus pada betis. Kram juga bisa terjadi pada paha dan jari-jari kaki.

Umumnya kram bukan masalah yang berbahaya, tetapi pada kasus yang jarang terjadi kram bisa menjadi gejala dari masalah lain seperti  penyakit arteri perifer atau masalah tulang belakang.

Kram akan makin sering terjadi karena bertambahnya usia dan pada saat kehamilan. Makan pisang bisa menjadi solusi saat kram kambuh. Meski khasiatnya tidak langsung terasa secara instan saat kram terjadi, tetapi pisang dapat membantu fungsi otot.

Pisang merupakan makanan yang kaya akan kalium. 1 porsi buah pisang biasanya mengandung sekitar 600 mg kalium, seperti dilansir Livestrong, Minggu (1/5/2011).

Kalium sangat penting untuk sel, jaringan dan organ agar berfungsi dengan baik. Kalium juga memainkan peran dalam fungsi jantung, kontraksi otot rangka dan halus serta fungsi pencernaan.

Banyak otot dan sel saraf memiliki saluran khusus untuk memindahkan kalium dalam dan keluar dari sel. Ketika gerakan ini diblokir atau tubuh kekurangan kalium, maka aktivitas kedua otot dan saraf bisa menjadi terganggu.

Dengan rutin makan pisang dapat memberikan manfaat besar agar otot-otot tubuh dapat menjalankan tugasnya dengan benar.

Kalium juga merupakan salah satu elektrolit tubuh. Bersama dengan natrium, klorida, kalsium dan magnesium, elektrolit harus seimbang agar otot-otot dapat berfungsi dengan baik.

Maka dari itu, dehidrasi dapat menyebabkan ketidakseimbangan dari elektrolit dan menyebabkan kram otot. Sekitar 95 persen dari kalium dalam tubuh disimpan dalam sel, sedangkan natrium dan klorida berada di luar sel.


Sumber

Arti Tangisan Seorang Pria

Menangis adalah hal wajar sebagai pelampiasan emosi. Dari tangisan, Anda juga bisa melihat kepribadian seseorang atau hal lain yang sedang dialaminya.

Dibandingkan wanita, pria memang cenderung jarang menangis. Jika memang Anda menemukan pasangan atau teman pria sedang menangis, cobalah untuk memperhatikannya, dan ketahui empat arti tangisan pria berikut, seperti dilansir dari Shine.




1. Saat menutupi tangisan
Pandangan budaya mengungkapkan kalau pria tidak boleh menangis. Hal ini membuat banyak pria menutupi emosinya, bahkan ketika sedang merasa bahagia.
"Ekspresi perasaan yang ingin ditunjukkan pria dan dianggap lebih diterima justru kemarahan dan gairah seksual," kata William July, PhD, penulis buku Tin Man.

Meskipun seorang pria berusaha menutupi saat ia menangis, sebenarnya ia membutuhkan dukungan. Jika menurut Anda ia lebih diam dari biasanya dan melihatnya menangis diam-diam, cobalah tanyakan keadaannya. Pria memang tak suka bercerita, tetapi ia tetap membutuhkan kelembutan dan dukungan untuk menenangkan emosinya.

2. Dia selalu berusaha tegar
Meskipun pria sedang sangat sedih, tetapi banyak yang menahan diri untuk tidak menangis. Pria cenderung merasa sebagai pelindung dan tak ingin terlihat lemah dengan menangis di depan pasangannya.

"Karena ia ingin terlihat tangguh dan jantan, perhatian utamanya adalah melindungi dan memastikan pasangannya merasa aman," kata Scott Kudia, PhD, penulis "If This Is Love, Why Am I Unhappy?"

Karena pria sangat tidak nyaman dengan menunjukkan emosi, berarti dia akan berusaha untuk mengatasi masalah dengan keadaan tenang dan tegar, serta menahan tangis. Tetapi hal ini membuat dirinya bermasalah dalam mengekspresikan emosi, baik verbal maupun fisik. Akibatnya pria cenderung diam dalam waktu lama dan sulit diajak berkomunikasi.

3. Frustasi
Ketika sesuatu yang direncanakan dengan matang tidak berjalan dengan baik, pria bisa saja menangis. Frustasi, kecewa, marah, sedih bercampur jadi satu.

"Jangan salahkan air mata pria, karena perasaannya yang sensitif," kata George Weinberg, PhD, penulis buku Why Men Won't Commit.

Berikan pelukan hangat dan biarkan ia mengekspresikan emosinya dengan menangis. Temani hingga ia benar-benar merasa tenang.

4. Tak sungkan menangis
Tak masalah jika seorang pria bisa menangis dalam segala situasi emosional atau mungkin saat menonton film. Justru itu merupakan gambaran kalau dirinya adalah priabadi yang seimbang.

"Itu menunjukkan ia adalah orang yang seimbang, antara sisi maskulinitas dan emosional. Kemungkinan ia bisa jadi komunikator yang baik," kata Kudia.

Pria tipe ini juga tidak bermasalah dalam menunjukkan perasa


Sumber

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes Powered by Blogger | DSW printable coupons